Langsung ke konten utama

Bukittinggi Kota Wisata

Assalamualaikum teman-teman, kali ini aku mau ngebahas tentang salah satu kota yang ada di Sumatera Barat, kota yang sering dijuluki kota wisata dan daerah juga dingin, kota apa hayo? Yap! Kota Bukittinggi. Di blog ini aku mau membahas tentang pariwiata apa aja yang ada di kota di Bukittinggi. Okedeh langsung aja ya.

Kota Bukittinggi adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Kota ini juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatera dan Provinsi Sumatera Tengah. Kota ini pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Bukittinggi dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.
Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatera. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Dari sektor perekonomian, Bukittinggi merupakan kota dengan PDRB terbesar kedua di Sumatera Barat, setelah Kota Padang. Tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah Jam Gadang, yaitu sebuah menara jam yang terletak di jantung kota sekaligus menjadi simbol bagi Bukittinggi.
Industri pariwisata merupakan salah satu sektor andalan Kota Bukittinggi. Banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki sebagai "kota wisata". Pada tahun 2012, jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi kota ini mencapai 26.629 orang. Saat ini di Bukittinggi terdapat sekitar 60 hotel dan 15 biro perjalanan. Hotel-hotel yang terdapat di Bukittinggi antara lain The Hills, Hotel Pusako, dan Grand Rocky Hotel.
Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang. Untuk mengunjungi nagari Koto Gadang di bawah ngarai, wisatawan bisa melalui Janjang Koto Gadang. Jenjang yang memiliki panjang sekitar 1 km ini, memiliki desain seperti Tembok Besar China.
Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau. Kebun Binatang Bukittinggi dan Benteng Fort de Kock, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di Kota Bukittinggi.
Pasar Ateh (Pasar Atas) berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir, serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.
1. Ngarai Sianok

Ngarai Sianok merupakan sebuah lembah sempit yang dikelilingi oleh bukit-bukit bertebing curam yang dihiasi dengan aliran sungai kecil di tengahnya. Kontur Lembah Sianok terbentuk karena proses turunnya sebagian lempengan bumi, sehingga menimbulkan patahan berwujud jurang yang curam.
Ngarai ini membentang sejauh 15 km dari sisi selatan Nagari Koto Gadang hingga Nagari Sianok Enam Suku, dengan kedalaman tebing mencapai 100 meter dan lebar celah sekitar 200 meter.Kawasan ini memiliki sebutan lain yaitu, Lembah Pendiam, karena suasananya yang tenang dan damai. Didukung dengan udaranya yang bersih dan sejuk, diiringi latar suara kicauan burung dan gemericik air sungai, ngarai ini cocok sebagai tempat melepaskan beban pikiran dari rutinitas sehari-hari.
Karenanya, banyak warga Kota Bukittinggi mengisi akhir pekan mereka dengan berolahraga di sekitar ngarai ini. Olahraga yang biasa dilakukan di sini antara lain, trekking, bersepeda gunung, maupun sekedar berjalan-jalan ringan melepas kepenatan.
2. Jam Gadang

Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi sekretaris (controleur) Kota Bukittinggi (Fort de Kock) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker.
Konstruksi bangunan menara jam ini dibangun oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden.
Monumen Jam Gadang berdiri setinggi 26 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih, yang dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol) Kota Bukittinggi. Konstruksinya tidak menggunakan rangka logam dan semen, tetapi menggunakan campuran batu kapur, putih telur, dan pasir.
Bangunan Jam Gadang memiliki 4 tingkat. Tingkat pertama merupakan ruangan petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam. Sementara pada tingkat ketiga merupakan tempat dari mesin jam dan tingkat keempat merupakan puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan. Pada lonceng di puncak tersebut tertera nama dari produsen mesin jam ini.
Atap berbentuk gonjong di puncak menara yang kini dapat kita saksikan bukanlah bentuk asli dari bangunan tersebut pada masa awal pendiriannya. Desain awal puncak Jam Gadang berbentuk bulat bergaya khas Eropa, dengan patung ayam jantan di bagian atasnya.
Memasuki era pendudukan Jepang, atap Jam Gadang dirubah mengikuti gaya arsitektur Jepang. Saat era kemerdekaan tiba, atap tersebut dirombak kembali menjadi bentuk atap bagonjong yang merupakan ciri khas dari arsitektur bangunan asli Minangkabau.
Mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya diproduksi dua unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Unit kedua yang setipe dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London, Inggris, yaitu Big Ben.
Sistem yang bekerja di dalamnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun.
Mesin yang berada di lantai tiga ini menggerakkan jarum jam yang menghadap keempat penjuru mata angin. Diameter masing-masing area perputaran jarum jam tersebut adalah 80 centimeter.
Seluruh angka jam dibuat menggunakan sistem penomoran Romawi, akan tetapi angka empat ditulis dengan cara diluar kelaziman, yaitu dengan empat huruf 'I' (IIII) dan bukan dengan tulisan 'IV'. Hal ini menjadi salah satu daya tarik yang menimbulkan rasa penasaran bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini.
3. Jembatan Limpapeh

Ada yang unik saat melintas di Jalan Ahmad Yani, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Di kawasan yang akrab dengan sebutan Kampung Cino ini terdapat jembatan sepanjang 90 meter dengan lebar 3,8 meter menjuntai. Masyarakat Kampung Cino kerap menyebutnya dengan sebutan Jembatan Limpapeh, jembatan yang menjadi ikon kebanggaan Kota Bukit Tinggi selain Jam Gadang.
Jembatan Limpapeh dibangun tahun 1995 dengan warna kuning dan merah yang terlihat dominan sebagai hiasannya. Terbuat dari baja, jembatan ini menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort de Kock.
Sekilas, Jembatan Limpapeh terlihat tidak begitu menarik jika dilihat dari bawah, namun saat mencoba untuk menyeberang dengan menggunakan jembatan, terasa getaran dan goyangan yang justru memancing adrenalin.
Pada bagian tengah jembatan, terdapat desain rumah tradisional Minangkabau dilengkapi dengan gonjong dibagian ujungnya. Ukiran khas ranah minang juga terlihat jelas saat menapaki kaki di jembatan yang menggunakan kayu sebagai landasan.
Selain itu, yang menarik dari Jembatan Limpapeh adalah, dari jembatan ini para wisatawan dapat melihat pemandangan indah Kota Bukit Tinggi yang dikelilingi perbukitan dan Gunung Marapi.
4. Benteng For De Kock

Benteng Fort De Kock di Bukittinggi dibangun atas perintah Johan Heinrich Conrad Bauer pada tahun 1825, seorang kapten yang memimpin salah satu satuan pasukan tentara Hindia-Belanda di wilayah pedalaman Sumatera Barat. Benteng ini sebelumnya bernama “Sterreschans”, dalam Bahasa Indonesia artinya “Benteng Pelindung”. 
Di sii kita bisa berkeliling melihat area benteng dengan melepas penat sambil menikmati udara sejuk Kota Bukittinggi. Kita juga bisa melihat pemandangan Gunung Merapi dan ratusan macam satwa yang dipelihara di Taman Margasatwa. Jangan lupa untuk menikmati berbagai macam kuliner khas Minang di Kota Bukittinggi. Kita bisa naik ke atas Benteng untuk melihat pemandangan indah Kota Bukittinggi sambil mengabadikan momen indah ini dengan kamera.
Baiklah teman-teman sampai sini dahulu pembahasan kita,semoga bermanfaat.
Data Pustaka :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bukittinggi
  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/panorama-ngarai-sianok-mengagumi-pahatan-sang-pencipta-di-bukittinggi
  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/jembatan-limpapeh-jembatan-nan-anggun-dari-bukit-tinggi
  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/jam-gadang-monumen-kebanggaan-kota-bukittinggi
  • https://minangtourism.com/benteng-fort-de-kock/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Fort_de_Kock


Komentar